Urusan Pajak, dan Konsultan Akunting

Silahkan Kunjungi Situs Kami di www.bristoltaxservice.com

Selasa, 02 Agustus 2011

Menjadi Pemarah

Pertama, menjadi seorang yang pemarah merupakan suatu hal yang sangat MUDAH dilakukan. Dimana sejak kecil manusia selalu terbiasa untuk memenuhi segala keinginan yang timbul dari pikirannya.

Semakin lama keterikatan akan keinginan ini semakin kuat menguasai dirinya. Keterikatan keinginan ini membangkitkan rasa ego didalam dirinya semakin kuat, sehingga rasa kepemilikan dan ke-aku-an menjadi semakin kuat dan besar tanpa disadarinya.

Adanya keterikatan akan rasa kepemilikan dan rasa ke-aku-an yang merasa superior dari mahluk lain, membangkitkan dorongan emosi yang semakin besar untuk selalu menjaganya. Emosi yang timbul semakin lama semakin membesar. Bilamana emosi ini tidak dapat terkendali lagi, akhirnya akan menjadi sumber pembangkit rasa marah yang tidak terkendali. Sehingga awal dan sumber kelahiran rasa marah yang muncul di dalam pikiran tidak dapat disadarinya, akhirnya dirinya merasakan bahwa rasa marah yang timbul sebagai jati diri yang sebenarnya.

Sejak kecil hingga sekarang manusia pada umumnya selalu berada pada jalur ini. Di jalur dimana mereka selalu berusaha memuaskan keinginan yang timbul dari pikiran, sehingga keterikatan yang selalu didapati pada akhirnya. Keterikatan yang timbul sebenarnya adalah sumber segala penderitaan. Semakin banyak keinginan yang timbul, maka semakin besar keterikatan yang terbentuk, dan akhirnya semakin besar pula penderitaan yang akan dirasakan.

Kedua, menjadi seorang yang dapat menahan rasa marah merupakan suatu perbuatan yang TIDAK MUDAH. Disini mereka dituntut untuk selalu dapat manahan emosinya. Rasa marah yang timbul harus dapat mereka kendalikan. Walaupun kadang kala pada awalnya rasa marah ini menguasai mereka, tetapi mereka harus berusaha untuk dapat menguasai kembali emosinya.

Banyak cara untuk menguasai emosi yang timbul seperti berusaha untuk membaca mantra, mengatur nafas, atau berusaha untuk memperlambat nafas, dan ada pula dengan cara mengalihkan konsentrasi dan emosi ke hal lainnya seperti berlatih meditasi. Bermacam-macam cara untuk menahan rasa marah memerlukan latihan yang tidak mudah.

Terakhir adalah menjadi seorang yang dapat memahami amarah yang timbul, merupakan suatu hal yang SANGAT TIDAK MUDAH. Mereka yang tidak lagi terpengaruh oleh timbulnya emosi rasa marah, adalah mereka yang dapat memahami awal timbul amarah yang bersumber dari pikirannya.

Mereka yang dapat memahami awal timbul amarahnya adalah mereka yang telah memiliki kesadaran sejati yang jernih dan terbebaskan dari gambaran pikiran.

Hanya dengan kesadaran sejati maka emosi yang timbul dari gelombang dan gambaran pikiran dapat dihilangkan. Dengan memahami kesadaran sejati, segala macam penjelmaan pikiran yang pada awalnya memang tidak ada akan kembali seperti pada awalnya dan hilang dengan sendirinya. Berhati-hatilah selalu dengan penjelmaan pikiran yang sifatnya selalu berusaha untuk memperdaya kesadaran sejati.

Kekuatan pikiran yang tidak terkontrol pada mereka yang tidak membina Kesadaran Sejati, akan sangat jelas terlihat pada saat mereka dikuasai oleh pikiran yang membangkitkan emosi marah. Rasa marah yang bangkit bagaikan gemuruh ombak yang menghantam segalanya, dimana tiada lagi dapat di bedakan antara angin dan lautan yang sesungguhnya.

Mereka yang terjebak dalam lingkaran emosi pada umumnya tidak lagi menyadari bahwa dirinya telah di kuasai oleh emosinya, sehingga emosi yang timbul akan lebih mudah meluap tanpa disadari. Emosi-emosi yang timbul ini akan menghabiskan energi chi didalam tubuh. Sehingga semakin sering timbulnya emosi yang meluap, akan berakibat semakin besar energi chi yang terbuang dengan percuma.

Bilamana energi chi semakin berkurang didalam tubuh akan mengganggu peredaran energi chi baik yang melalui jalur chakra maupun yang melalui jalur pembuluh darah dan syaraf. Akibat terganggunya energi chi di dalam tubuh maka kemungkinan timbulnya penyakit di dalam tubuh akan lebih besar.

Bagi pencari kebenaran Kesadaran Sejati sebaiknya selalu berhati-hati dalam memahami Kesadaran Sejati yang sesungguhnya. Walaupun telah lama dan banyak berlatih berbagai macam cara untuk menguasai pikiran yang timbul baik berupa emosi, keinginan, dan keterikatan. Ingatlah selalu bahwa jelmaan dari pikiran adalah tanpa batas.

KEBERHASILAN DALAM HIDUP

Dalam karya tulis kecil ini, keberhasilan pembentukan diri mendapat tekanan pada pentingnya relasi diri dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan sekitar dan terutama relasi dengan Allah. 



menuntut perbaikan terus menerus (continual improvement) yang dilandari dengan pandangan filosofis individu manusia dan landasan teologis relasi sendiri. Kemudian pembentukan diri itu melalui suatu proses belajar dengan bantuan metode Carkhuff.
Keberhasilan pembentukan diri oleh diri sendiri ditentukan oleh kemampuan mengenal diri, kemampuan berrelasi dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan dan Tuhan. Kemampuan ini mirip dengan kemampuan emosional (emotional quotient) ala Daniel Goleman. Indikasi kemampuan ini adalah adanya kemampuan memahami dan memotivasi potensi diri, memiliki rasa empati terhadap diri dan orang lain, perasaan senang (berpikir positif), asertif yaituterampil menyampaikan pikiran dan perasaan dengan baik, lugas dan jelas tanpa harus membuat orang lain tersinggung.
Orang-orang yang memiliki kecakapan emosional ini dalam sejarah Indonesia adalah mantan Presiden Soeharto dan Akbar Tanjung.
Para psikolog mengatakan bahwa keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup akan diraih  seseorang jika ia bisa menggabungkan tiga kecerdasan yaitu intelektual (intelligent quotient-IQ), emosional (emotional quotient-EQ), dan spiritual (spiritual quotient-SQ).Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan menghadapi persoalan teknikal dan intelektual. Kecerdasan emosional adalah keterampilan membangun relasi sosial dalam lingkungan keluarga, kantor, bisnis maupun sosial. Kecerdasan ini melahirkan iklim dialogis, demokratis, partisipatif dan dewasa. Yang terakhir, kemampuan spiritual adalah kemampuan membarikan makna, motivasi dan tujuan hidup yang di dalamnya ada kekuatan adikodrati (Allah).
Danah Zohar dan Ian Marshall, penulis buku Spiritual Quotient: The Ultimate Intelligent, seperti dikutip oleh Komaruddin Hidayat, mengatakan bahwa tanpa disertai kedalaman spiritual, kepandaian (IQ) dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberikan keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup.
Model diri yang berhasil dalam hidup adalah mereka yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual yaitu mereka yang kualitas intelektualnya baik, mampu berrelasi sosial secara simpatik, inspiring  dan motivating serta memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai spiritual sebagai pandangan hidup.

Senin, 06 Juni 2011

Hari-hari'q

Mengapa harus terjadi seperti ini..................................................
Tahun 2011 adalah tahun yang membosankan buat saya
Barang kali ini adalah suatu tantangan dalam hidup ini, sejak berpisah dengan seseorang hidup ini semakin rumit dan suram. mungin harus penuh dengan kesabaran dalam menghadapi segalanya, namun apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur . kesabaran itu telah hilang dalam kehidupan saya pribadi tidak bisa menahan diri dan selalu terulang kesalan yang sama . Ohh.. Tuhan tolonglah hambamu ini yang penuh dengan Dosa ini . rasanya tidak mau lagi Hidup,  , emang sihh godaan itu selalu ada dima-mana . Bagaiman saya harus melawan semuanya ini ? apakah aku harus meninggalkan semuanya ini (.Warnet. ) . Usaha apa dan pekerjaan apa yang saya lakukan lagi ? mungkin kah harus pindah ? atau mungkin kah harus PULKAM ? (.oh itu tidak bisa.) saya paling benci di kampung...............
         Hari demi hari bulan berganti bulan dan tahunpun sili berganti.. yang aku temukan hanyalah seberkas Dosa / kesalahan . membuat orang2 menjauh dari kehidupan saya. namun saya ada satu pengharapan.......
Pengaharapan yang saya nantikan adalah datangnya dari sang Maha kuasa Tuhan Allah semeta alam yang menciptakan saya dan segala isinya di dunia ini. ini adalah suatu pedoman bagi hidup saya.....
Sepertinya kata bersabar itu sangat perlu dalam kehidupan saya, tidak ada kata terlambat sebab Tuhan itu baik dan kasih setia-Nya dari sekarang sampai selama-lamanya turun temurun....
Oh Tuhan ampunilah saya..
saya percaya akan saya dapatkan semuanya di dalam nama-Nya yang memberikan saya kehidupan dan Berkat yang berlimpah selama saya masih hidup. Doa dan kesungguh-sungguhan adalah obat yang paling manjur untuk mencapai kesuksesan....
Doa dan Pengharapan saya.
Terima kasih ......